SANG PEMARAH MEGALOMANIC ITU BERNAMA PRABOWO


Seperti diberitakan oleh banyak media setelah melihat calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menunjukkan marah dalam debat keempat, Sabtu malam (30/3/2019).

Prabowo Subianto terlihat ingin menguasai panggung dengan memberikan banyak orasi dan penekanan kata-katanya. Tapi khas Prabowo, dari sana malah kelihatan temperamennya. Dan semakin naik temperamen Prabowo, semakin ngawur jawaban Prabowo.

Saat itu, calon presiden 02 Prabowo Subianto sempat marah pada penonton debat yang tertawa ketika Prabowo berbicara ihwal lemahnya pertahanan Indonesia.

Sambil menunjuk ke arah penonton, Prabowo bertanya, "Kenapa kalian ketawa? Pertahanan kita lemah, kalian ketawa. Lucu ya?" tanya Prabowo saat debat di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019.

Rupanya kejadian emosi Prabowo yang tak terkendali pernah dialami oleh presenter Kompas TV, Rosiana Silalahi.

Hal tersebut diceritakan oleh salah seorang tim media center BPN Prabowo secara off the record. Saat itu peristiwanya berawal dari wawancara khusus Prabowo untuk acara Rosi.

Wawancara dilakukan di kediaman Prabowo di Jl. Kertanegara No.4 pada tanggal 4 Oktober 2018. Sedianya acara tersebut akan disiarkan live. Namun ada kejadian yang tidak bisa ditayangkan di TV.

Pada saat itu wawancara mengalir biasa. Namun tiba pada saat Rosi menanyakan tentang kasus Ratna Sarumpaet, Prabowo berusaha menahan emosi dengan menjawab secara diplomatik.

Puncaknya adalah ketika jeda iklan, Prabowo tak bisa menahan emosinya, dia langsung melemparkan handuk bekas mengusap keringatnya kepada Rosi. Setelah memaki-maki Rosi, Prabowo masuk ke dalam kamarnya dan harus dibujuk anaknya, Didit Hediprasetyo, untuk melanjutkan wawancara.

Kejadian Prabowo tidak bisa menahan emosi sudah berulang kali terjadi. Bahkan Suharso Monoarfa, Ketum PPP saat ini pernah menjadi korbanya.

Ada kisah tersisa dari Pemilu 2009. Ketika Partai Persatuan Pembangunan menarik dukungan dari Partai Gerindra pada pemilihan presiden 2009, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto sempat melemparkan telepon selulernya ke arah petinggi PPP.

Cerita itu bermula ketika sejumlah petinggi PPP bertemu Prabowo di rumah Hashim Djojohadikusumo di Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada 10 Mei 2009. Petinggi PPP yang hadir antara lain Suryadharma Ali, Suharso Monoarfa, Hasrul Azwar, dan Joko Purwanto.

Saksi di peristiwa itu menuturkan kepada Tempo, setelah PPP menyatakan maksud hati menarik dukungan ke Gerindra, Prabowo mengambil telepon selulernya di atas meja. Sambil marah-marah, ia melemparkannya ke arah Suharso. “Beruntung Suharso bisa mengelak,” kata saksi itu kepada Tempo.

Ketua Umum Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam mengungkit soal Prabowo Subianto memukul meja dalam forum Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212

Sebelumnya, Usamah menyebut Prabowo memukul meja dan berbicara lantang dalam forum Dewan Penasihat PA 212 lantaran ada pihak yang meragukan keislamannya.

Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif mengamini bahwa Prabowo sempat sedikit menggebrak meja, bukan memukul.

Masih banyak kejadian-kejadian lain baik yang terekam maupun tidak terekam media. Antara lain kejadian megusir wartawan Kompas TV dan Metro TV. Bahkan Sufmi Dasco Ahmad adalah salah satu korban saat Prabowo melempar cangkir kopi di depannya. Bahkan saat perebutan kekuasaan 1998, Prabowo sempat mengancam dan menodongkan pistol kepada Presiden BJ. Habibie karena tidak diberikan mandat.

Salah satu keputusan berdasar emosional adalah ketika Prabowo menghamburkan uang Rp 15 Miliar agar kampanye di Bogor bisa membayar banyak massa untuk memenuhi stadion Pakansari. Sebab kampanye sebelumnya di Bandung hanya dihadiri segelintir massa.

Bagaimanapun, masyarakat kita tidak ingin memiliki seorang pemimpin yang pemarah. Sangat berbahaya jika suatu negara dipimpin oleh pemimpin yang sangat pemarah. Keputusan-keputusan penting menyangkut bangsa dan negara ini seharusnya selalu diambil dengan hati sejuk dan kepala dingin. Bukan dengan emosi yang meledak-ledak dan grusa-grusu.

0 Comments